Showing posts with label Cerpen. Show all posts
Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Stupid (part 2)

1 komentar
      Dini, nama cewe itu. Sedang kuliah semester dua di fakultas kedokteran sebuah universitas negeri. Bukan kemauannya memilih sekolah ini. Bukan juga kemauan orang tuanya. Tidak ada yang menyangka dia akan memilih melanjutkan sekolah di fakultas ini. Tidak seorangpun menyangka, tidak juga kedua orangtuanya, tidak juga kakaknya. Dalam silsilah keluarganya, belum ada yang menjadi dokter. Hanya budhenya, istri dari kakak ibunya, yang menjadi bidan. Tapi tetap, semua orang menghargai pilihannya dan mendukungnya penuh. Bahkan orang tuanya yang notabene ‘biasa saja’ dari segi keuangan, sangat senang anaknya melanjutkan sekolah di fakultas yang katanya ‘mentereng’ itu. Tidak ada satupun kalimat pesimis maupun bernada tidak senang ketika Dini diterima di fakultas itu. Hanya tangis bahagia dan ucapan selamat bertubi-tubi yang menghiasi lolosnya seorang perempuan delapan belas tahun ini dari ujian Negara untuk memasuki universitas negeri.
       Kadang, sekolah di fakultas itu menjadi sangat sulit bagi Dini. Kuliah jam tujuh pagi selama tiga jam, dilanjutkan dengan istirahat satu jam, dan dilanjutkan lagi dengan diskusi sistematis. Kadang, masih dilanjutkan lagi dengan belajar bersama teman-teman sekelasnya. Sekitar jam empat sore, baru Dini bisa bernafas lega. Namun bukan untuk istirahat, karena dia masih harus mengerjakan tugas modul untuk diskusi esok harinya, nanti malam, sendirian, di kamarnya.
       Kadang, dia bisa jadi sangat tertekan dengan kisah hidupnya. Walaupun tidak ada yang tampaknya sangat jelek dalam hidupnya, setidaknya begitulah yang terlihat dari luar. Dia bisa menangis sendirian di kamarnya dibalik selimut, berpura-pura tidur, barangkali orangtuanya tiba-tiba masuk kamarnya. Kadang dia menulis diary untuk meluapkan tekanan itu, atau menelepon teman SMA-nya, hanya untuk mendengar temannya bertanya ‘kenapa’ dan berdiam diri selama satu jam. Kali ini, dia memilih datang ke indekost teman SMA-nya.
       Sesampainya di indekost teman lamanya, dia menunggu temannya itu membukakan pintu. “Hei, tumben kamu kesini?” sapa temannya sambil membukakan pintu gerbang. Dini hanya terdiang dan menerawang.
       ‘Kamu yakin mau curhat sama temenmu itu? Dia mana tau perjuanganmu? Kayaknya sia-sia deh kalo kamu ngomong sama dia,’ sebuah sisi dirinya menyentakkan impuls ke pikirannya.
       “Ayo, masuk,” ajak temannya. Dini memarkir sepeda motornya di teras indekost temannya, lalu mengikuti temannya menuju kamar.
       “Kenapa kamu?” tanya temannya. Dini hanya menerawang – lagi. “Kok nggak jelas sih? Mau minum?” tanya temannya lagi. Lagi-lagi, respon yang sama dari Dini. Temannya menyodorkan segelas air mineral yang barusan dipompa dari galon di sebelahnya. Dini hanya menggeleng pelan.
       “Tak nyalain lagu ya, be’e bikin kamu jadi sadar,” kata temannya, lalu beranjak ke depan laptop di meja rendah yang sudah nyala dari tadi. Lagu Relax, Take it Easy dari Mika berdentum-dentum dari speaker. Kemudian diliriknya temannya yang sepertinya sedang bermasalah itu, menunduk seperti orang tanpa harapan dan kebahagiaan. Lalu dia membuka-buka situs jejaring sosial dari laptopnya.
       “Kamu pernah bingung gag?” Lirih, namun kalimat itu keluar dari bibir Dini.
       ‘Nah lo, ngomong apaan sih?! Semua orang pasti pernah bingung laaah... jangan sok bego gitu dong! Orang lain jadi gag respek. Walopun curhat, ya yang keren dikit gitu lho, kayak: aku bingung nih milih antara dua cowo, mereka baik semua sih. Masa tanya: kamu pernah bingung gag? Képlé!’
       Masih sambil mengetik di laptopnya, temannya tadi berkata, “bingung dalam konteks apa dulu?”
       “Ya bingung. Pokoknya bingung aja gitu,” kata Dini lagi, walau agak jaim juga rasanya dia bilang kayak gitu. *jaim=jaga image
       “Pernah sih, sering malah,” jawab temannya singkat.
       Sunyi.
       Masih sunyi.
       Masih saja tidak ada yang memulai percakapan.
       Mengatasi kesunyian itu, temannya berkata lagi, “kemarin itu, aku di sms Siska, katanya si Mita jadian sama Andi ya..?”
       ‘Mita. Andi. Apa urusanmu sama mereka berdua? Mereka cuman dua orang yang sering ganti-ganti pacar. Ilang satu, nyari yang lain, untuk ilang lagi. Gag penting banget sih mikirin mereka. Kamu aja masih belum selesai sama dirimu sendiri!’
       Dini hanya menganggukkan kepala pelan. “Kamu sekelas kan sama Mita?” tanya temannya lagi.
       Lagi-lagi Dini hanya menganggukkan kepala pelan. Lalu sunyi lagi.
       ‘Coba deh berpikir positif. Ungkapkan uneg-uneg kamu, biar lega. Temanmu ini siap membantu kamu,’ sisi dirinya kembali menggaungkan suara di otaknya.
       Dini menyandarkan kepalanya ke dinding di samping kirinya. Matanya kembali menerawang. “Ka...” ucapnya lirih. “Kamu masih mau jadi temenku, kan?” tanyanya pelan. Sangat pelan. Hampir-hampir tidak terdengar. Tapi temannya, Rika, mendengarnya.
       “Dari dulu kamu itu temenku,” kata Rika. Lalu sunyi lagi. “Kamu ada masalah kah?” tanya Rika, memecah kesunyian.
       Dini mengingat-ingat kembali hidupnya. Tekanan. Banyak tekanan. “Kuliah di FK itu susah banget ya,” ucapnya, dengan mata masih menerawang.
       Rika melihatnya sebentar, dan berkata, “Kan kamu sendiri yang milih.”
       “Kayaknya pilihanku salah deh,” sesal Dini.
       “Lha terus..?”
       “Kalo aku pindah aja gimana ya? Ke yang lebih gampang gitu..?”
       “Kamu kok tiba-tiba jadi kayak gini si? Ya kan emang gitu kalo mau jadi dokter. Banyak lho yang pingin ada di tempatmu sekarang.”
       Dini menghela nafas. Sisi lain dirinya lagi-lagi berbisik, ‘temen kamu bener, sayang. Ini bukan resiko, tapi pilihan. Allah pasti kasih kamu kemampuan yang lebih sehingga kamu bisa berada di tempat kamu sekarang. Tenang aja, semuanya tinggal dijalani kok.”
       “Makanya, kalo nentuin pilihan, mikir dulu dong! Dasar kamunya aja yang bego. Masa milih FK tanpa pertimbangan sama sekali? Salah tuh...” sisi kontra bicara lagi. Dini menghela nafas lagi.
       “Aku numpang tidur disini bentar ya,” tanya Dini.
       “Iya gag apa-apa, tidur’o wes.”

Stupid (part 1)

0 komentar

       Jam menunjukkan pukul 12.00. Walau begitu, kelas sudah kosong, kuliah hari ini sudah selesai. Di sudut yang tak terlihat, seorang cewe duduk memeluk lututnya. Matanya menerawang, tak jelas apa yang dilihatnya. Bayangan masa lalu, masa kini, dan masa depan berkelebat di ujung saraf visualnya. Percakapan, nasehat, dan suara hatinya pun memenuhi seluruh korteks pendengarannya. Mungkin dunia ini sudah tak lagi terlihat maupun terdengar olehnya, dia masuk ke dunianya sendiri. Air matanya pun berangsur-angsur tumpah, membasahi pipinya yang mulai memerah.
       Tak bisa. Tekanan ini sudah tak bisa lagi dibendungnya. Sisi lain dirinya memaksanya terus berpikir negatif. Sisi lainnya lagi hanya ingin bilang, 'inilah hidup, jalani aja...' Sebuah sisi ini terus menerus menyodok bagian pengatur emosi di otakknya, 'liat tuh, kamu nggak punya temen kan.. Kamu mau berharap apa lagi? Nilaimu itu lho jelek semua, nggak bakalan bisa bagus, kayaknya kamu salah deh milih kuliah disini. Mau jadi dokter? bah! Kamu tuh nggak mungkin bisa survive sendirian, liat kenyataan dong! Kamu harus punya kelompok yang selalu ngelibatin kamu, juga harus kenal sama tu dokter-dokter, banyakin relasi! Tapi kamu nggak mungkin bisa deh. Aku kan juga kamu, aku paling tau kalau kamu tuh males banget. Uuh.. udah deh, kelaut aja sana! Tempatmu bukan disini! Dan lagi, udah buang aja prinsip anehmu itu. Nggak mau pacaran? Itu bikin kamu apatis, tau! Udah, pacarin aja tu cowok-cowok, yang banyak sekalian juga nggak apa-apa, kamu kan punya kemampuan besar buat memikat kaum adam itu, cuma perlu sedikit lebih perhatian kan. Lagian, gaya hidup jaman sekarang kan kayak gitu. Suami mah urusan belakang, sekarang waktunya seleksi siapa yang pantes buat dijadiin suami, cari tau sifat mereka sebelum nyesel nantinya. Kamu mau jadi satu-satunya orang yang gag ngikut peradaban? Kalo gitu yaa,, kamu emang gag layak mikirin pasangan hidup,' katanya.
       Sisi lainnya lagi mencoba melawan sodokan itu dengan berkata, 'hidup itu mesti punya prinsip. Kamu pegang teguh prinsip itu. Kamu sendirian bukan berarti selamanya. Sadari, temenmu lho banyak. Kamu kasih perhatian lebih ke mereka, karna sebenernya kamu juga pingin itu kan. Udah deh, nggak usah berharap banyak. Lakuin aja apa yang pingin kamu lakuin, dan yang harus kamu lakuin. Gag perlu mikirin akhirnya bakal jadi kayak apa, itu bukan urusanmu, itu urusan Tuhan. Hiduplah untuk saat ini. Jalan dengan mantap!'
       Terngiang nasehat keluarganya, 'jadi cewe mesti pasang harga mahal, tapi jangan jadi barang antik yang gag ada peminatnya, jadilah barang mahal yang berkilau dan menarik banyak orang. Jangan mudah ketipu sama rayuan gombal. Tu kan banyak contoh-contoh di tivi. Lagian, kamu kan calon dokter, pasti pinter laah. Tapi sekarang kamu udah kepala dua ya? Waah... kayaknya agak susah tuh kalo masih jomblo aja. Dulu aku pacaran waktu mulai kerja skripsi, sampe sekarang masih langgeng. Padahal ya, dulu tuh banyak banget yang ngejar-ngejar aku. Tapi suamiku ini yang berhasil menangin hatiku. Kalo kamu... hmm... mungkin ini susahnya jadi orang pinter ya. Kamu jadi terlalu perfeksionis menilai seseorang. Jangan bikin kriteria yang terlalu berat, ntar cantik-cantik gini, dokter lagi, tapi jadi perawan tua. Aduuh.. jangan deeeh. Tapi percaya deh, kamu pasti dapet yang terbaik buat kamu, dan dipertemukan di saat yang paling tepat.'
       Satu sisi dirinya lagi-lagi berkata, 'bego! Liat kondisimu sekarang dong! Mengenaskan gitu! Belajar sendirian, makan sendirian, disuruh kerja rumah tangga sama ortu kamu, nggak ada temen yang ngajakin hang out, nggak ada yang bisa bener-bener ndengerin curhatmu, kamu juga mesti care dan menjaga tata krama sama semua keluargamu. You're not that perfect! Dan hidupmu nggak bakal bisa sempurna kayak fairy tale. Kerja keras berusaha ngeraih impian gimanapun susahnya, setelah itu berakhir bahagia dengan nemu pangeran ganteng trus kalian menikah. Hidup jaman sekarang mesti serba gampang, ngapain kamu cari susah mulu.....'
       'Stop pikiran negatifmu itu! Nggak ada yang nggak mungkin. Hidup ini cuma perlu disyukuri...'
       'Bullshit!! Kamu mau jadi golongan orang-orang yang pake baju gombor dan bercadar yang selalu bilang masya Allah, masya Allah, hahahaaa...'
       'Tapi emang itu yang harus kamu lakukan. Kamu emang harus selalu bersyukur dan minta ampun sama Allah. Dunia ini bukan punya kamu, ini punya Allah. Cuma Allah yang bisa menentukan takdirmu....'
       'Hahahahaaaa... jangan gila ya! Rasional dong...'


       "Din? Kamu kenapa?" Tiba-tiba terdengar suara lembut, juga elusan lembut di bahu kiri cewe itu, sesuatu yang nyata.


       'Ini nih, bentar lagi orang ini pasti pergi, dan melupakan apa yang dia liat sekarang. Kayaknya dia lagi kebetulan masuk kelas, mungkin ada barangnya yang ketinggalan. Liat aja, bentar lagi juga dia pergi, dia cuman sopan-sopanan aja kali kayak gini ini,' sebuah sisi dirinya lagi-lagi berkata.


       Air mata cewe itu mengalir semakin deras, kerutan di antara kedua matanya nampak semakin jelas. Siapapun yang sedang berada di sampingnya sekarang, yang tak dilihatnya, mengelus lembut bahunya lagi. "Din? Kamu mau cerita sama aku?" ucap seseorang itu dengan penuh kelembutan dan kesabaran.


       'Great! Dan setelah kamu cerita semuanya ke dia, kamu curhatin semuanya ke dia, dia akan cerita ke semua orang, dan semua orang akan kasihan sama kamu. Selamat jadi orang yang dikasihani, kamu nggak bakal dikenal sebagai seorang yang kuat!'


       Cewe itu menutup wajahnya dengan kedua tangannya, seolah menyembunyikan tangisnya yang makin menjadi. Namun air matanya tetap mengalir dalam bisu, hanya isakan kecil saja yang kadang terdengar. Cewe itu ngga mau orang lain tau kalo dia sedang menangis. 'Tapi kenapa ada aja yang tau kalo aku lagi nangis?' pikirnya. "Aku temenin ya. Kalo kamu mau cerita apapun, aku siap ndengerin kok," kata seseorang di sebelahnya.


       'Nah lo! Dengan kata lain, ni orang nyuruh kamu diem dan stop nangis. Idih, siapa dia, seenaknya aja nyuruh kamu diem, kamu kan punya hak juga untuk nangis...'
       'Dia berniat baik. Tuh liat, kamu pikir kamu sendirian? Bahkan selalu ada temen di samping kamu, setiap waktu. Kamu nggak pernah sendirian...'
       'Boong banget. Tu orang ada di samping kamu, cuma formalitas aja kali. Kan udah jadi tata krama di negeri ini, kalo ada orang nangis ya dielus-elus. Kalo dia temenmu, dia bakal kreatif laaah. Cuman ngelus-elus aja, sok simpati pasti tu orang, pingin dianggep aja...'
       'Hmm... kamu nangis aja terus deh, sampe semua susahmu tumpah, dan tandonnya kosong. Jadi, ringan nanti hidupmu...'
       'Nah, dengerin tuh. Tu orang disamping kamu, pencet-pencet sms. Dia pasti lagi smsan sama pacarnya. See kan? Dia ada di samping kamu, bukan untuk kamu. Fisiknya doang ada disitu, tapi dia lagi ngobrol sama entah siapa jauh disana. Udah aku bilang kan, semua cuman tipuan! Eh, jangan-jangan, dia lagi nyebarin kalo kamu nangis ke semua temen-temen sekelasmu. Wah bahaya...'


       Sesekali, dirasakannya elusan lembut dari seseorang di sampingnya itu, walaupun tak keluar kata dari mulutnya. Perang batin terus menerus menekan otaknya, membuat tangisnya nggak bisa berhenti.


       "Din? Udah mau jam tiga nih. Biasanya penjaganya mau ngunci kelas lho," ucap seseorang itu.


       'Nah lo! ntar tambah banyak aja yang tau. Mau ditaro mana muka kamuu? Udah, stop deh nangisnya!'


       Cewe itu perlahan-lahan menghentikan tangisnya. Lalu lagi-lagi dia menerawang, sambil mengusap air matanya dengan punggung tangan beberapa kali, diabaikannya tawaran tissue dari seseorang di sebelahnya. Seseorang di sebelahnya ini merangkul dan mengelus-elus bahunya. Entah apa efek buat si cewe ini.
       Perlahan, cewe ini bangkit, dan berjalan gontai keluar kelas. Seseorang itu tetap setia di sampingnya, tetap merangkul bahunya. "Naik lift aja yuk," ucap seseorang itu. Cewe ini nurut aja, akal sehatnya sudah nggak jalan.
       Di dalam lift, seseorang itu bertanya lagi, "kamu mau kemana habis ini?" Tak dijawab. "Sabar ya," ucap seseorang itu sambil, lagi-lagi, mengelus bahunya.
       Keluar dari lift, cewe itu terdiam sejenak. Lalu dilihatnya seseorang yang dari tadi di sebelahnya. Riri. "Aku pulang," ucapnya singkat.
       "Hati-hati ya," ucap Riri, melambaikan tangan ketika cewe itu berjalan gontai keluar gedung.


km ad d kosan?q ksana skrg ya?
       Sampai di parkiran sepeda motor, cewe itu menulis pesan singkat untuk seorang teman lamanya, sahabat (mungkin). Tiga menit kemudian, ada jawaban singkat,
ya,ksnio..
       Cewe itu meluncur ke indekost teman lamanya...


..bersambung..

Akhir Kata Teman

0 komentar
Aku baru saja terbangun dari tidur nyenyakku. Saat kubuka jendela kamarku, kulihat pemandangan yang sudah tak asing lagi. Lewat jendela kamarku, terlihat sebuah jembatan bekas rel kereta api, 16 meter diatas sungai tadah hujan. Sejak dua minggu yang lalu, jembatan itu selalu terhiasi oleh pemandangan seorang gadis berseragam SMA yang berdiri memandangi sungai.
Hari masih subuh, tapi gadis itu sudah disana. Dua minggu yang lalu, pada jam yang sama, sangat heran aku melihat sesosok perempuan seumuran denganku berdiri memandangi sungai, seperti mau bunuh diri. Namun, aku tak berani mendatanginya. Mungkin ia hanya ingin bernostalgia atau mencari inspirasi. Saat aku akan berangkat sekolah, gadis itu sudah lenyap seakan dimakan oleh gemerlap mentari yang telah melewati ufuk timur.
Sekarang, dua minggu kemudian, pemandangan gadis itu kerap menghiasi pandanganku kala kubuka jendela kamarku di subuh segar kota ini. Sudah menjadi pemandangan biasa buatku. Namun, semakin lama dia ada disana, semakin membuatku penasaran. Mengapa dia ada disana? Apa yang dia lakukan?
Semakin hari, semakin ingin kuungkap rahasia tentang gadis itu. Beribu pertanyaan menggaung di otakku, ingin segera dilepaskan. Pagi ini, kuberanikan diriku untuk menghampirinya. Ini sudah genap satu bulan dia berdiri mematung disana. Hari ini aku bangun lebih pagi. Setelah mandi, kupandang keluar jendela kamarku, dia disana. Dengan semangat yang membara – hingga membuatku bergetar dan berkeringat  di subuh yang dingin ini – aku menghampirinya.
Dari dekat, dia terlihat sangat cantik. Kulitnya putih bak marmer, bibirnya lembut dan mungil berwarna merah muda. Sayang dia cemberut. Aku yakin, kalau dia tersenyum, siapa saja akan terpikat dengan pesonanya.
Kusapa dia. Tak ada jawaban. Dia bahkan tidak menolehkan wajahnya untuk mengetahui siapa yang menyapanya. Bahkan, sepertinya dia tidak peduli aku ada atau tidak. Kusapa sekali lagi, tetap tak ada respon. Kusapa lagi untuk ketiga kalinya, kali ini dia menoleh. Kalau dari samping dia terlihat sangat cantik. Kini saat terlihat seluruh wajahnya, siapa saja – aku yakin – akan terpana melihat keelokan nan sempurna pemberian Tuhan ini.
Dia menatapku, tanpa rasa, tanpa emosi. Pandangannya kosong dan menerawang. Ada apa dengannya? Kutanya dia dengan penuh perhatian. Entah kenapa, begitu aku berada di dekatnya, timbul rasa sayang. Atau mungkin ini hanya rasa kasihan? Entahlah. Yang jelas aku sangat ingin menyelam ke dasar hatinya. Dia tidak menjawab pertanyaanku, malah kembali memandangi sungai. Maka kutanya lagi, apakah dia punya masalah? Diam jawabnya.
Tak kenal putus asa, aku menanyainya hal yang sama. Sepuluh kali aku bertanya dan tidak satupun kata keluar dari bibirnya. Bahkan, pandangannya yang hampa tetap menghiasi wajahnya hingga ia menengok jam tangannya dan pergi meninggalkanku tanpa pamit, tanpa sapa.
Ada apa dengannya? Apakah dia punya masalah? Pertanyaan itu terus berputar di otakku. Tak kuasa aku menahan rasa penasaran, maka kuhampiri lagi dia esok paginya. Namun, hasil yang kudapat tetap sama. Begitu seterusnya hingga satu minggu kemudian.
Saat kusapa dia, dia langsung memandang awan. Pandangan yang berbeda dari sebelumnya. Tidak lagi hampa, kali ini penuh makna.
‘Aku memang sedang banyak masalah’
Itu katanya setelah aku berada disampingnya dan menyapanya.
‘Kalau boleh tahu, apa sebenarnya masalahmu?’
Tanyaku.
‘Sejak lebih dari sebulan yang lalu aku kemari. Tujuan utamaku adalah bunuh diri. Aku tahu, kalau melompat dari sini pasti akan mati. Lihat saja batu-batu di bawah sana, lagipula airnya hanya sedikit. Tapi, begitu sampai disini aku takut. Bagaimana rasanya mati? Apakah sakit? Apa yang harus kukatakan pada Tuhan nanti? Bagaimana kalau Tuhan memasukkanku ke neraka?’
Jadi itu sebabnya dia terus-terusan memandangi sungai di bawah itu. Dia takut. Atau mungkin, dia sedang mempersiapkan diri?
‘Apa masalahmu sangat besar? Mengapa sampai mau bunuh diri?’
‘Bulan lalu papa meninggal karena overdosis. Mama yang sedang dirawat di rumah sakit karena jantungnya kumat, mendengar kabar ini. Mama sangat shock. Tiga hari beliau koma, kemudian menyusul papa ke sisi Tuhan. Sehari sebelum papa meninggal, aku merasakan ada yang aneh dengan tubuhku. Apalagi aku sudah tidak menstruasi selama dua bulan. Aku sangat cemas. Kecemasanku itu terjawab setelah aku mengetes urine-ku, aku positif hamil. Mendengar kabar ini, pacarku mengelak. Dia berkata saat itu aku sudah tidak perawan, janin ini bisa saja hasil dengan orang lain. Dia sangat tega, padahal aku baru melakukannya dengan dia. Tak elak lagi kami putus. Sebenarnya aku tidak mau, aku butuh ayah untuk anakku, tapi dia memaksa.’
Sungguh tragis kisah hidupnya. Tuhan memberi cobaan yang begitu berat padanya. Tak heran kalau dia bersimbah air mata begitu. Akupun sangat kaget mendengar ceritanya, sampai tidak bisa berkata-kata. Lalu dia melanjutkan ceritanya.
‘Kini aku hidup seorang diri. Kamu pasti bisa membayangkan susahnya. Ternyata, orang tuaku tidak memiliki tabungan yang mencukupi. Sekarang saja sudah habis. Setelah ini aku harus hidup dengan apa, coba? Ada janin ini, juga!’
Dia memukul perutnya sendiri.
‘Teman-teman sekolahku tidak ada yang peduli padaku. Beberapa dari mereka yang mengetahui kehamilanku malah berkata aku ini wanita jalang, cewek murahan, pelacur! Sahabat-sahabatku juga perlahan menjauh dariku. Apalagi pacarku, dia malah pura-pura tidak mengenaliku. Semua itu sudah cukup berat buatku, tapi ternyata masih ditambah dengan cemoohan para tetangga dan keluargaku. Aku kini sebatang kara dan sengsara. Padahal dua bulan yang lalu aku menganggap bahwa akulah orang yang paling beruntung di dunia ini.
Dan kau tahu? Kemarin adalah hari terakhir aku bersekolah. Pacarku sendiri yang memberitahu kepala sekolah bahwa aku hamil, bahwa ayahku adalah junkies yang mati OD, dan ibuku seorang rentenir yang juga telah meninggal. Buruk banget, kan? Ternyata aku memang dilahirkan tidak untuk disayangi. Kemarin aku dikeluarkan dari sekolah tanpa bisa membela diri.’
Tanpa sadar, butir-butir air mata jatuh di pipiku dan menetes ke kaosku. Hatiku serasa ditusuk seribu belati. Ternyata dunia ini kejam! Kenapa tidak ada yang mau membantu saudaranya yang sedang diberi cobaan berat? Dia menunduk, menangis, sambil meremas besi yang menjadi penghalang dia dari keinginan melompat ke sungai.
‘Aku bisa membantumu.’
Bergetar suaraku mengucapkannya. Tapi benar, ini datangnya dari hati. Aku benar-benar ingin menolongnya.
‘Terima kasih’
Katanya singkat. Namun, dia seperti memiliki harapan baru. Wajahnya terlihat lebih bersinar saat menoleh ke arahku, dan dia tersenyum padaku. Senyum yang sangat tulus, yang aku tahu itu datangnya dari hati. Dia nampak sangat cantik, walau pipinya merona dan matanya basah karena tangis. Sungguh, dia bagai malaikat. Seandainya dia tidak menangis, dia akan tampak sempurna. Sebuah karya Tuhan Maha Agung yang dilahirkan tanpa cacat atau salah.
Aku memeluknya. Ingin rasanya aku mengambil sebagian luka hatinya. Ini pasti sangat berat buatnya. Setelah tangisnya mereda, kuajak dia ke rumah tempat tinggalku selama dua tahun ini. Dia menurut saat kuajak berjalan. Namun, ketika kami tiba di depan rumah induk semangku, dia menolak dengan sopan dan memilih untuk pulang ke rumahnya saja. Aku memakluminya, mungkin dia ingin menenangkan diri dan tak ingin diganggu orang lain.
Esok paginya, seperti biasa aku membuka jendela kamarku. Namun, tidak ada sesosok-pun di jembatan itu. Mungkin dia belum datang, pikirku. Maka, setelah mandi dan sholat subuh, aku keluar menuju jembatan itu. Berharap akan menemuinya. Di depan pintu kutemukan secarik kertas yang diganjal dengan batu agar tidak terbang terbawa angin.

Aku sudah tidak tahan, ingin segera mengakhirinya. Aku tak peduli dengan Tuhan. Terima kasih atas bantuanmu. Itu sangat berarti buatku. Tapi, ini keputusanku.

Begitulah isi kertas itu. Tidak ada nama pengirim, tapi aku tahu dia yang menulis surat singkat ini. Kata-katanya membuatku curiga. Lalu kulihat orang-orang berkerumun di jembatan, memandang ke sungai. Jangan-jangan...
‘Ada apa, pak?’
Tanyaku pada salah satu warga yang memandangi sungai.
‘Ada yang mati, jatuh ke sungai’
Jawabnya. Dengan sigap aku menerjang orang-orang yang berkerumun disitu hingga aku dapat melihat ke sungai. Di bawah sana kulihat dia, memakai gaun hitam, terkoyak batu-batu besar. Semoga setelah ini, pupus semua dukamu. Semoga Tuhan memaafkan segala kesalahanmu. Dari sini aku mendoakanmu, temanku...

Jalan Hidup

0 komentar
Chika membuka lemari es di sudut ruangan. Hawa dingin mengalir dari dalam lemari itu. Namun, kerutan di dahinya tak juga meregang. Diambilnya botol sirup lychee dan dituangnya ke dalam gelas. Kemudian diisinya gelas itu dengan air dingin dari botol di sebelah botol sirup tadi. Diaduknya sebentar larutan itu, lalu diminumnya, seteguk demi seteguk, sampai habis.
Sensasi dingin merayapi seluruh tubuhnya, tapi belum cukup untuk meregangkan kerutan di dahinya dan menyegarkan kembali pikirannya. Dia menyandarkan tubuhnya di dinding, dan mengenang kembali masa-masa akhir SMA-nya dulu.
***
Kamu mau ngelanjutin kemana nanti, Chika?
Kelas tiga SMA, Chika sering sekali mendengar pertanyaan itu ditujukan padanya. Tapi, dia hanya bisa menjawabnya dengan ragu, “nggak tau.”
Tapi di kamar, di jalanan pulang, di kelas, bahkan di kamar mandi pun, Chika selalu memikirkan pertanyaan itu. Sering dia merenungkan masa depannya, ‘akan jadi apa aku nanti ya?’ Pernah suatu kali dia melihat poster beasiswa pendidikan dari sebuah bank swasta. Lalu pikirannya mulai menjelajah, ‘apa aku jadi pegawai bank ya? Kata orang, gajinya besar.’ Ketika dilihatnya sebuah poster pendidikan pramugari, langsung saja dia membayangkan dirinya, dengan rambut terikat rapi di belakang, memakai baju merah rapi, dan rok panjang dengan belahan sampai paha. Dia tidak kuat membayangkannya. ‘Terlalu seksi,’ begitu pikirnya.
Inas, sahabatnya, juga mengalami hal serupa dengannya. Kata orang, keadaan ini disebut madesu (masa depan suram). Kegiatan mereka yang biasanya jalan-jalan menyusuri kota berdua, sekarang menjadi merenung di taman kota berdua. Suatu hari, seorang teman mereka, Ali, menemukan dua onggokan manusia kebingungan ini, dan menyapa mereka.
“Assalamualaikum, Chika, Inas. Sedang apa kalian?” tanya Ali sopan. Maklum, dia memang pelajar ‘baik-baik’, aktif di rohis sekolah, sering mengisi kajian islam juga. Tapi, yang ditanya masih saja bengong, belum sadar kalau ada orang di depan mereka.
“Assalamualaikum..? Chika? Inas? Kalian baik-baik saja?” Ali bertanya lagi, kali ini sambil menggoyangkan telapak tangannya di depan wajah kedua gadis itu. Tetap tidak ada respon. Tentu saja, kedua gadis itu sedang asik melamun.
“Kalian sedang memikirkan akan melanjutkan kuliah dimana, nanti?” Tanya Ali. Spontan, mata kedua gadis itu menatapnya tajam. Ali terkejut, dan segera berkata, “Akan lebih baik jika kalian sholat istikharoh, agar jalan kalian dimudahkan oleh Allah. Saya pergi dulu. Assalamualaikum.”
“Hahahaaaa...” tawa kedua gadis itu pecah.
“Liad gag, gelagapan banget si Ali tadi,” ucap Inas sambil tertawa.
“Hahaa..iya, iya. Masa dia gag tau kalo kita cuman pura-pura ngelamun? ‘Pinter’ amat.. Tuh, dia kesandung batu lagi. Hahahaa...” Chika juga menertawakan Ali, yang kebetulan kesandung batu di ujung taman.
Kedua gadis itu menertawakan Ali, tak henti-henti. Pikiran remaja mereka yang masih nakal, tidak sanggup menerima keberadaan seorang yang – kata mereka sih – sok alim (maaf lho, ya), seperti Ali. Padahal Ali merupakan jagoannya para guru. Tentu saja, kalau seabrek prestasi didapatkannya, mulai dari Ketua Lembaga Islam, anggota tim informatika, juara 1 Olimpiade Kimia se-Jawa-Bali, rangking 5 besar paralel, dan lain sebagainya – yang sepertinya kurang pantas kalau disebutkan disini (lho?). Kurang apa, pemuda satu itu? Menurut Inas dan Chika, yang kurang dari Ali adalah, kurang nakal (dasar remaja, sudahlah, biarkan mereka menikmati masa mudanya).
Walaupun Chika dan Inas seringkali merendahkan bahkan mempermainkan teman mereka yang ‘berada pada jalan yang benar’, tapi kali ini berbeda. Sampai di rumah, Chika segera mandi dan mengambil air wudhu, lalu sholat asar. Entah apa yang menggerakkan hati gadis satu ini, sehingga ia menyempatkan untuk bangun dan sholat malam, hal yang baru pertama kali dia lakukan.
Besoknya, di sekolah Chika berpapasan dengan Ali. Chika, yang memang memiliki percaya diri tinggi, berjalan tegak. Berbeda dengan Ali, yang menundukkan kepalanya. Chika tersenyum, ‘masih malu, anak itu,hahaa,,’ pikirnya. Di kelas, seorang temannya bertanya, “Setelah ini, kamu ngelanjutin kemana, Ka?” Chika berpikir sebentar, dan entah angin apa yang menggerakkan bibirnya dan membuatnya mengatakan, “Dokter aja, deh.”
Inas yang mendengarnya, terkejut dan berkata, “Beneran, Ka?” Sedangkan Chika, hanya bisa menanggapinya dengan gumaman. Chika sendiri pun bingung dengan perkataannya tadi, ‘setidaknya, aku bisa menjawab pertanyaan orang-orang,’ pikirnya. Karena dia tahu, banyak kendala yang menghambatnya untuk menjadi seorang dokter. Hal pertama, tentunya adalah kemampuan akademisnya yang tidak terlalu tinggi, bahkan bisa dibilang cukup rendah, terbukti dengan dijulukinya ia – oleh beberapa temannya – sebagai seorang yang lemot. Lagipula, rangking paralelnya selalu diatas 130 (“masih untung gag diatas 180.” Kira-kira begitulah tanggapan Inas dan Chika atas peringkat ini). Selain itu, kemampuan ekonomi orangtuanya, ibunya yang seorang penjahit serabutan, dan ayahnya yang seorang guru SD, tidak akan mampu mencukupi biaya sekolah kedokteran yang sangat mahal itu. Apalagi, dia masih punya dua adik yang masih bersekolah di SMP dan SD.
Bagi Chika, menjadi seorang dokter merupakan impian yang bahkan tidak pernah terpikirkan dan hanya terucapkan untuk menjawab pertanyaan, ‘mau melanjutkan kemana?’ Tapi, bahkan Chika sendiri pun, tidak tau, kenapa semenjak dia mengatakan hal itu, dia jadi rajin belajar. Dia jadi semakin ‘niat’ sekolah. Bahkan dia mampu menembus rangking 30 besar di semester lima.
Mengetahui bahwa dirinya mampu jika dia memang belajar, niat Chika menjadi semakin kuat. Sekarang dia memiliki cita-cita : menjadi dokter. Betapapun mustahilnya impiannya itu, yang jelas dia akan berusaha. Chika tau, orang tuanya tidak akan sanggup membiayainya, seandainya dia mengikuti lembaga bimbingan belajar. Maka, sementara teman-temannya sibuk mengikuti bimbingan belajar sepulang sekolah, dia mengerjakan soal-soal di rumah. Di kelas, Chika juga selalu menempati tempat terdepan. Selain itu, semakin mendekati hari ujian, dia juga berkonsultasi dengan orang tuanya, mengenai cita-citanya itu. Ada sedikit keraguan dari kedua orang tua Chika, tentu saja pertimbangannya adalah biaya yang bejibun itu. Walaupun sedikit ragu-ragu, namun orang tuanya menyetujui niat Chika itu. “Uang itu datangnya dari Allah, kalau memang itulah takdirmu, pasti ada jalan, nak,” kata ibu Chika. Dengan begini, maka bertambahlah semangat Chika untuk mencapai impiannya itu.
Ketika akhirnya, tibalah waktunya untuk ujian masuk perguruan tinggi, Chika ragu-ragu untuk mengisi kolom ‘Pendidikan Dokter’ sebagai pilihan pertamanya. Ribuan pertimbangan, lagi-lagi, berputar-putar di otaknya. Namun akhirnya, pilihan itu mengisi kolom pertama lembar jawabannya.
***
“Hei, ngelamun aja. Gimana hasilnya?” Inas bertanya pada Chika.
Chika menundukkan kepalanya, menatap gelas kosong di genggamannya, dan menghela nafas. “Kamu gimana?”
“Aku keterima pilihan kedua, Ka. Ekonomi,” jawab Inas pelan. Inas tak kuasa bertanya lagi. Dia tau, sahabatnya ini tidak diterima di semua pilihannya.  Inas tau, sahabatnya ini sedang terjatuh, impian besarnya tidak kesampaian, bahkan impian kecilnya yang hanya untuk melanjutkan sekolah pun, tidak kesampaian. Inas juga tau, beban sahabatnya tidak sampai disitu. Sebagai anak pertama, sahabatnya itu harus bisa menjadi contoh yang baik bagi adik-adiknya. Inas hanya bisa melingkarkan lengannya di bahu sahabatnya itu, dan menepuk-nepuknya, tanpa mengatakan apapun.
Tapi Chika mulai terisak. “Padahal, baru kali ini aku berani bermimpi,” ungkapnya. Inas yang tak tega melihat sahabatnya itu menangis, memeluknya. Chika menangis semakin deras.
“Kamu masih bisa nyoba tes lain kok, Ka. Sabar ya. Yakin deh, bahwa ini adalah jalan terbaik-Nya buat kamu.”
Hingga tiga hari setelah pengumuman itu, Chika masih menangis tiap malam di kamarnya. Dia masih menyesali jalan hidupnya. Dia bingung. Lalu, apa yang harus dilakukannya setelah ini jika dia tidak kuliah? Berbagai tawaran sekolah swasta mengerumuninya. Teman-temannya, guru-gurunya, juga orang tuanya, menyarankan dia untuk bersekolah di sekolah swasta, untuk menjadi sarjana maupun di bidang kekaryaan. Chika tidak pernah memikirkan tawaran itu, bahkan untuk satu detik pun. Tapi ada satu orang yang menawarkan penawaran besar, yang pastinya tidak akan pernah Chika lupakan, sampai kapanpun.
“Assalamualaikum, Chika.”
“Iya, waalaikum salam..”
“Bagaimana ujian nasional perguruan tinggi kemarin? Kamu diterima dimana?”
“Tahun ini, belum rejekiku. Mungkin tahun depan aku nyoba lagi. Kamu sendiri, keterima dimana?”
“Alhamdulillah, aku diterima di Kedokteran.”
“Selamat ya. Kalo kamu, kemampuannya udah gag diragukan lagi deh. Pasti keterima dimanapun kamu ngelamar.”
“Nggak juga. Insya Allah, semoga ini jalan terbaik untukku.”
“Iya.”
“Ngomong-ngomong, masih ada satu lamaran yang belum aku ajukan nih.”
“Kamu kan udah keterima sesuai inginmu. Mau ngelamar kemana lagi?”
“Sebenarnya ada dua lamaran, satu dari aku, satu lagi bisa dibilang penawaran.”
“Mbulet ah, gag jelas banget!”
“Aku bingung harus bilang dari mana.”
“Udah ya, aku mau pulang.”
“Chika! Jangan pulang dulu. Aku mau memberikan penawaran buat kamu.”
“Penawaran apaan?”
“Ayahku mengurus sebuah LSM. Mereka selalu memberikan beasiswa tiap tahunnya untuk lima puluh orang. Lalu, aku mengajukan namamu sebagai salah satu penerima beasiswa itu, dan ternyata disetujui.”
“Kok seenaknya gitu sih?”
“Maaf, Chika. Tapi beasiswa ini luar biasa. Aku harap kamu menerimanya. Beasiswa ini membiayai kamu selama pendidikan sampai menjadi dokter, di fakultas kedokteran milik negara.”
“Wow,, enak banget dong. Tapi, aku kan nggak keterima. Walaupun aku mau menerimanya, tapi aku tidak bisa, kan?”
“Dengan kamu menerima beasiswa ini, kamu sudah terdaftar sebagai mahasiswa di fakultas kedokteran tanpa tes.”
“APA??!!! Kamu pasti bercanda! Terus, aku harus ngasih apa ke mereka?”
“Yang perlu kamu lakukan cuma memberikan loyalitasmu untuk membantu LSM itu.”
Coba tebak, siapa yang berbincang panjang lebar, lama sekali, dengan Chika itu?! Yap, tepat sekali. Dia adalah Ali, teman Chika, yang sering mendapat perlakukan semena-mena (kata ini hanya mendramatisir) dari Chika. Usut punya usut, ternyata Ali sudah melirik Chika sejak mereka kelas dua SMA, waktu mereka berada pada satu kelas.
Sekarang Chika sadar, bahwa Allah adalah Yang Maha Kuasa untuk membolak-balik nasib seseorang, bahwa Allah adalah Yang Maha Adil untuk menentukan nasib seseorang, bahwa Allah adalah Yang Maha Mengetahui apa-apa yang terbaik bagi hamba-Nya. Chika tidak hanya mendapatkan impiannya, tapi dia juga mendapatkan apa yang belum pernah dia impikan. Satu minggu setelah Ali mengabarinya mengenai beasiswa itu, dia melamar Chika. Walaupun kata orang mereka masih terlalu muda, tidak ada yang dapat menentukan kesiapan selain Allah. Maka, sebelum mereka menempuh jenjang pendidikan yang baru, mereka memutuskan untuk menempuh jenjang hidup yang baru, dan Chika mendapatkan Ali sebagai teman hidupnya.

RABBIT

0 komentar
A yellow rabbit come to my garden. It is so cute. It has big eyes, long ears that flip up, a wooly hair which is yellow, and two big incisors. I see it from my window. And then it jumps. Whoa… its jump is so high. I cannot measure it, but I guess it is about three meters or more. Its jump reaches my roof. And then it gets down. But, something is different from its look. I wonder what it is. Ah, I know, it is getting bigger than before. What is bigger? Ah, I know, its stomach is bigger. But why it inflates? It doesn’t even eat my grass.
Before I finish thinking it up, it is jumping again. But, it leaves a little deep footprint in my grass yard. And now I know what else that has been bigger. It is its leg. It is just one of it leg. What happen to it? Several seconds later it gets down. Whoa… it has made the footprint deeper! What is happening?! Now it has same big legs. And, just a moment I saw its incisors grow. It is grows sharper. And, I think, it has became a weird shape rabbit. It is no more looks like a rabbit. It more looks like a monster.
And then it jumps again. When it is jumping, it leaves a deeper footprint that makes my grass wither. I feel a little afraid, but I force my self to look at it. So I open my window and look to the sky. Ah… so that is what has happened. It is eating my roof. It is true! The rabbit eats my roof. I ask my self why it eats my roof more than my grass. It is unusual. The rabbit… eats… my roof?!
My astonished are not clear yet, but the rabbit is standing in front of me, makes me being more astonished. When I saw it several minutes ago, it was a cute and small animal. But now, it is bigger than me. It is even bigger than my wide window. And then it looks at me. It eyes is not an innocent eyes that animal’s usually has. It is red, perfectly round. But, when I see a smoke rising from it’s under body, I also see its eyes are growing. Its eyes are growing more and more. I cannot count it again. It has become a thousand eyes. An eyes that insect usually has.
Its transformation is complete. It is looking at me rudely and greedy, like it wants to eat me. It is stepping. When it is stepping, even my build-in-concrete wall cannot endures it. It breaks my build-in-concrete wall and also my lovely window. I am turned back. And then I realize that my roof is not protecting me anymore. The sun is shining at me and the weird rabbit from top. The clear blue sky is being the witness of my ending. I close my eyes, give my life to God, let He decides what will happen to me. Will I die? Or will I live.
Incidentally, something rough and wet touches my cheek. I open my eyes and startled to what I see. The rabbit is licking my cheek. Its mucus is green, thick, and very nauseating. I hope it just kills me!


How person do something is controlled by their intuition. When they are following their bad intuition, they will become an immense one. Just like the rabbit. It was a cute one, but it followed its bad intuition and became a weird rabbit, and then it followed its innocence and it canceled its desire to kill. However someone like that just cause a trouble for their environment.

Cursed Day

0 komentar
“Hai, Lia! Lesu banget pagi ini?!”, Rani menyapaku penuh keceriaan.
“Iya, aku lagi mikirin sesuatu”, jawabku singkat dengan nada sedikit merana.
“Kenapa, sih? Kamu ada masalah?”, tanya Rani, mulai prihatin.
“Aku.........”
“Hai, Rani! Happy valentine!”, seorang cowok melintas dan langsung menyapa Rani – tanpa menyapaku – lalu memberikan sekuntum bunga mawar. Ternyata Ardi.
“Makasih.... Li! Duluan, ya?”
Tuh, kan? Sudah kuduga hari ini bakal jadi hari yang menyebalkan. Valentine? Hhhh...... buatku sama sekali bukan hari kasih sayang. Hei! Memang bukan, kan? Hari valentine kan tepat dengan kematiannya pendeta valentine, tidak bisa disebut hari kasih sayang sebenarnya. Menurutku, tapi tidak buat anak-anak lain.
Mungkin hanya aku yang tidak berbahagia hari ini. Itu karena hanya aku yang tidak mendapat coklat atau traktiran atau ‘ditembak’ cowok. Nyebelin banget nggak, tuh? Pastinya dong! Umurku bahkan sudah hampir tujuh belas, tiga bulan lagi. Tapi, tidak ada seorang cowokpun yang berani mendekati aku. Memangnya ada yang salah dengan diriku? Sepertinya tidak ada deh......
“Hai, Lia! Eh, cerpenmu bagus banget...” Siska. Dia idola cowok-cowok. Pasti sudah dapat beberapa batang coklat. Kulihat jam tangan berwarna hitam di pergelangan tangan kiriku. Padahal masih jam tujuh kurang lima.......
“Aku langganan majalah ‘Adilla’, jadi tadi pagi aku membacanya. Ceritanya bagus banget. Kamu kenapa, sih?” Kenapa semuanya pada tanya? Masa mereka tidak tahu kalau hanya aku yang belum dikejar cowok? Memangnya tidak terlihat dari wajahku, ya?
“Kok sedih? Mestinya kamu senang, dong. Cerpenmu kan dimuat di majalah....”
“Makasih, Sis”, kujawab singkat, padat, dan jelas. Oke, kuakui aku memang bangga, tapi hanya sedikit. Saat pertama cerpenku dimuat di majalah, memang aku sangat senang, sampai jingkrak-jingkrak. Tapi sekarang tidak lagi. Cerpen dimuat bukan lagi sebuah kehebohan. Bagaimana tidak kalau tiga novelku sudah diterbitkan dan sudah puluhan cerpenku dimuat di surat kabar. Bukannya sombong sih, tapi itu sudah menjadi hal yang biasa buatku.
Bahasa Indonesia, pelajaran yang sangat membosankan. Kenapa sih guru ini terus-terusan mengoceh? Lalu, kenapa juga semua anak ngeliatin aku? Memangnya kemeranaanku begitu terlihat, ya?
“Li. Kamu ditanya pak Teguh, tuh. Jawab, dong...”, bisik Rani di telingaku. Otakku belum nyambung, tapi aku terus memandangi guru bahasa Indonesiaku berjalan mendekat ke arahku, lalu berbicara di depan wajahku.
“Lia! Kamu habis dari mana? Dari Amerika?!”, kata orang itu judes.
“Enggak, pak.”
Kok aku mendengar suara dengusan tawa, ya?
“Jangan melamun saja! Saya bertanya pada kamu!”
“Saya nggak ngelamun kok, pak. Kan sudah saya jawab, saya nggak dari Amerika. Saya di Indonesia terus kok, pak.”
Kok suara dengusannya tambah keras, ya? Ada suara cekikikan juga. Kenapa juga bapak ini berkacak pinggang?
“Saya bertanya, apa parafrase dari puisi yang dibacakan temanmu tadi?!”
Ehm..... well, puisi apaan? Memang siapa yang baca puisi? Mati aku. God! Ternyata anak-anak menertawakan aku. Jadi dari tadi aku melamun? Jam berapa, nih? Kulihat jam tanganku, jarumnya menunjukkan angka delapan dan tiga. Jam delapan lima belas.
“Malah melihat jam tangan. Kamu dari tadi ngapain, non?! Kalau saya perhatikan, dari tadi kamu melamun!”
Aduh..... mati aku. Daripada tambah celaka, mendingan nunduk aja deh, sepertinya lebih aman.
“Menunduk, lagi. Saya ingin kamu menceritakan parafrase puisi yang dibacakan temanmu tadi. Bukunya dibuka, dong!”
Tuhan...... lindungilah hambamu ini. Tuhan, tolonglah hambamu ini. Ya Tuhan, aku harus membuka halaman berapa nih?
“Puisi ‘Surat dari Ibu’ karya Asrul Sani di halaman sembilan puluh lima!”, kata bapak itu. Aduh! Siapa ya, namanya? Oya! Pak Teguh..... yes! Otakku sudah kembali!!!!
Pak Teguh berjalan kembali ke bangkunya di depan, bisa kulihat asap transparan keluar dari sela-sela rambut hitamnya yang tersisir rapi dan dari tiap ujung jemari tangannya dan dari sepatunya juga. Wah, apa orang ini sedang terbakar, ya? Bajunya juga warnanya merah, pas banget tuh. Lia! Sekarang bukan saatnya ngaco! Kamu diambang kematian, tuh.....
“Begini sikap kalian? Memangnya kalian tidak ingat  kapan kalian ujian?!!!”, kata pak Teguh keras. Membentak tepatnya, dan matanya terjurus ke aku. Maaak.....
“Sekarang sudah pertengahan Februari! Bulan Mei kalian ujian akhir! Kalian ini sadar atau tidak, sih? Guru-guru kalian sudah mati-matian mengajar kalian agar kalian bisa lulus! Begini tanggapan kalian? Sudah bosan belajar?!!!” Sebenarnya pak Teguh berbicara sama siapa, sih? Kok matanya tertuju padaku terus?
“Sudah pintar, ya?! Ya sudah, kalau kalian memang sudah pintar, lebih baik saya keluar!”
TEEETTT!!!
Pak Teguh keluar kelas dengan ‘api’ yang menyala-nyala.
“Memang waktunya keluar, pak”, kata Rani setelah rambut terakhir pak Teguh melewati pintu. Nadanya mengejek. “Gila kamu, Li! Mau dibunuh?”, tanya Rani padaku. Sepertinya dia menghawatirkanku tapi juga menertawaiku, buktinya dia menyunggingkan senyum dahsyatnya.
“Aku dari tadi melamun. Hari ini nggak mood sama sekali...”, ucapku bosan.
“Tahu, nggak? Dari tadi pak Teguh ngeliatin kamu terus. Kalau kuhitung sekitar setengah jam-an ada-lah. Kamu nih, kalau mau melamun cari waktu yang tepat, dong! Guru killer gitu......”, Rani menggeleng-gelengkan kepalanya.
Fiuh! Akhirnya istirahat juga. Paling enak minum Granita di kantin saat ini. Tapi...... hari ini memang menyebalkan! Keterlaluan! Semua tidak mengerti perasaanku! Bahkan di kantin pun ada perayaan valentine. Semua kedai berhiaskan pink dan ada banyak mawarnya, jualannya juga serba coklat. Jadi tidak nafsu minum, nih.
Setelah berkeliling sekolah, aku muak melihat dekorasi sekolah hari ini: ekstra pink dan penuh mawar. Pasti kerjaan anak osis. Aku memutuskan untuk kembali saja ke kelas, padahal istirahat masih ada lima belas menit. Aku melewati lapangan basket yang kali ini dipenuhi oleh para cowok yang berlutut di depan para cewek, mengemis pernyataan ‘iya’. Hhhh......... lalu kulihat Ian bersama begundal-begundalnya, mereka melintasiku. Keterlaluan, mereka bahkan tidak menyapaku. Apa hari ini benar-benar kutukan buatku?
Sebal pada semua, kutundukkan kepalaku sehingga aku tidak melihat jalan di depanku, yang terlihat hanya ubin kotor di bawahku. Duk!
“Sorry”, aku menabrak seseorang yang berdiri dekat tembok. “Oh kamu, Luh? Lagi ngapain?” Ternyata Galuh, cowok impian para cewek yang sampai sekarang belum juga punya cewek. Mungkin habis ini dia ‘nembak’ seseorang yang perfect sejenis Siska. Satu yang bisa kupastikan: dia sudah mendapat puluhan coklat sejak tadi pagi. Mungkin juga dia dapet segunung bunga mawar, habis dia wangi banget sih.
“Ini, mau ngadain acara valentine-nan. Kamu ikut, ya?”, katanya datar. Ice-man.
Kubaca poster berwarna pink dipadu hijau lumut itu. “Di rumah kamu?”
“Iya, nanti malam di pekaranganku. Kamu ikut, ya?”, tanyanya. Nada bicaranya agak memaksa menurutku.
“Gimana, ya? Habis aku nggak punya pasangan, sih”, keluhku. Aku jujur, kan?
“Itu bukan masalah. Lagipula acara intinya merayakan ultahnya Bargi. Hari ini juga, kan?”
Aku berpikir sebentar. Kalau ini acara ulang tahunnya Bargi, berarti yang diundang hampir satu sekolahan, dong? Kan banyak juga yang still single. Enaknya datang atau tidak, ya?
“Dresscode-nya apa?”
“Kamu positif datang?”, mendadak Galuh sumringah. Aku yang berhadapan dengan cowok terganteng di sekolah ini jadi Ge-eR sendiri.
“Yah..... aku pikir-pikir dulu deh. Kalau nanti ada mood, ya datang.”
“Oke. Dresscode-nya ‘Red and Rossy’. Kalau bisa kamu pakai aksesoris mawar yang banyak, ya? Biar meriah”, ternyata ice-man ini bisa bercanda juga.
“Memang ada ratu acaranya? Kalau ada, aku bakal berdandan senorak mungkin, nih....”, candaku. Norak? No way! Simple is perfect.
“Ada. Jadi, kuharap kamu dandan seperti badut, biar jadi ‘Queen of the party’. Hahaha.......” Alamak...... gantengnya.....
“Jadi benar-benar ada ratunya?”, aku ikut tersenyum melihat Galuh tersenyum sangat bahagia gitu.
“Iya. Ya udah, aku mau masang di mading depan. Kamu mau ikut mbantu?”
“Ehm..... sepertinya hari ini aku agak nggak mood. Jadi, sorry ya, kamu mesti kerja sendiri. Sorry”, kutangkupkan kedua tanganku di depan dada sambil tersenyum. Galuh juga tersenyum, lalu dia pergi.
“Daah....”, salamnya sebelum pergi. Kubalas dengan lambaian tangan. Aduh! Kami jadi seperti sepasang kekasih deh. Mimpi, kali.....
Di kelas, aku langsung bisa menemukan Rani. Itu karena saat aku memasuki kelas, dia berlari menghampiriku dengan penuh semangat dan langsung memelukku.
“Li! Nanti datang ya ke ultahnya Bargi!”, kata Rani penuh semangat.
“Ehm...... hari ini aku lagi nggak mood. Sepertinya aku nggak datang, deh....”
“Haaa.....?”, Rani menampakkan muka memelasnya. Well, sebenarnya kamu nggak perlu gitu, Rani. Lagipula, kamu kan bisa datang sama Ardi, yang tadi memberi kamu mawar. Kalau aku? Datang sama siapa? No one want to be with me, Rani....
“Ayo, dooong....... temanin aku. Kalau gitu, kamu datang sebentar aja, deh. Makan, terus pulang.....”
“Nggak, deh. Emangnya aku kambing? Datang cuma waktu ada makanan?”
“Ayolaaaah....... sepertinya party-nya nggak ngebosenin, deh... temanya aja red and rossy. Jadi nanti pasti penuh bunga mawar. Kan meriah, tuh. Gimana?”
“Kamu seperti sales aja, deh....”
“Tapi kamu mau, kan?” Dasar si Rani. Bisa saja membuat orang lain berubah pikiran.
“Iya, deh.”
“Horrreeee.....!!!!!”
“Tapi sebentar aja, lho....”, tambahku saat Rani bersorak. Aku hanya mau menemani dia sebentar, bukan untuk melihat orang-orang lain pacaran dan saling berpelukan. Risih, tapi membuat iri.
Pekarangan rumah Galuh, pukul 19.30
Suasana sudah ramai sekali, anak-anak yang lain sudah datang dari tadi. Benar juga, pesta ini sangat meriah. Dekorasinya penuh dengan untaian mawar beragam warna. Tapi, yang datang memakai warna merah semua. Kostum yang paling banyak dipakai adalah kaos merah dan celana jeans, seperti aku. Simple is perfect, kan?
“Li! Lihat tuh si Bargi! Dia keren banget, kan....?”
“Aduh.... nggak usah mupeng gitu deh, Ran” (mupeng = muka pengen).
“Buat teman-teman semua! Selamat datang di acara ulang tahun kawan kita, Bargi Andriyanto!”, MC yang nggak lain adalah Galuh memulai acara. Tepuk tangan yang sangat meriah mengikuti perkataan Galuh yang memang mengundang tepukan.
“Hari ini, tepat pada jam 19.30, tujuh belas tahun lalu Bargi dilahirkan ke dunia. Sekarang, tanpa terasa Bargi telah menginjak usianya yang ke tujuh belas. Beri tepukan meriah, dong.....” plok...plok...plok...suiiiitt.....suiiiiittt...... ramenya...
“Jadi, untuk merayakan ulang tahun Bargi  yang ke-17 sekaligus merayakan kedewasaannya, gimana kalau kita tiup lilin plus make a wish buat Bargi?”
“Huuu...... kuno! Wes gede, iki! Dudu’ arek cilik mênêh!”, seorang anak cowok berteriak dari belakang (buat yang tidak tahu artinya, huuu...... kuno! Sudah besar dia! Bukan anak kecil lagi!).
“Wuih! Iya juga. Gimana kalau potong tumpeng?”, kata Galuh.
“Perayaan jadi pak RT, kali....”, seorang anak, cewek kali ini, menyahut dari tengah para undangan diikuti oleh tawa dan sorakan setuju dari anak-anak lain.
“Haha... iya juga. Gimana kalau kita mendengarkan Bargi bernostalgia dengan harapannya lewat lagu karangannya?”, kali ini tidak ada yang menyahut. “Dengan penuh keceriaan dan doa buat Bargi, kita sambut artis kita kali ini, Bargi!”, terdengar teriakan, suitan, tepuk tangan yang sangat meriah dari semua undangan yang semuanya anak SMA.
“Ran, aku males nih. Aku pulang duluan, deh.”, kataku. Yah, sejujurnya acara ini cukup menarik. Tapi, aku sedang nggak mood. Aku mau mengabadikan kesebalanku hari ini di buku diary.
“Eh, jangan dulu dong. Aku kan jadi sendirian....”, mohon Rani.
“Kan banyak anak-anak lain....”
“Ehm..... ya udah, deh. Hati-hati ya. Eh! Kamu pulang naik apa?”
“Aku bawa motor, kok.”, setelah mengucapkan salam pada Rani dan teman-teman di sekitarku, aku beranjak pulang. Lantunan akustik dari panggung kecil di tengah undangan sudah mulai. Bargi yang memainkannya, merdu banget. Sama merdunya dengan suaranya yang sudah mulai bernyanyi.....
“Kawan ucapkan selamat ulang tahun
Semua berbahagia dalam acara ini
Sweet-seventeen Bargi di hari valentine
Kini ku tlah dewasa
Kini ku bisa berpijak di kakiku sendiri
Kini ku akan ungkapkan semua
Yang kupendam jauh di dasar hatiku
Kucinta kamu
Amelia Larasati.......”
“Wuuu.............! plok.... plok... plok...! suiiit.....!”
Apa?!!!!  Amelia larasati? Itu kan......... aku. Mendadak aku menghentikan langkahku. Mataku melotot, dengan gerak refleks aku membalikkan badanku. Seketika mataku berpapasan dengan mata Bargi. Aku sangat kaget, tapi matanya bergitu bercahaya – walau dilihat dari jarak dua puluh meter. Aku terdiam, tidak tahu harus berbuat apa. Aku terus menatap Bargi yang juga menatap sejurus padaku.
“Jadi gimana, Li?”, tanya Bargi lewat microphone. Gimana? Gimana apanya? Masa dia benar-benar nembak aku, sih? Sulit dipercaya, tapi apa aku harus percaya?
“Sebenarnya, aku sudah suka sejak kita sekelas di kelas satu. Tapi aku sadar, aku masih kecil saat itu. Aku sadar diri, aku belum bisa mengontrol emosiku. Sekarang aku sudah dewasa, aku yakin dengan hatiku. Tiga tahun aku memendamnya. Sekarang, apa kamu mau jadi pacarku?”, kata Bargi panjang lebar. Dia tetap menatapku, begitu pula aku. Suasana kembali sepi, dan aku merasakan bahwa semua orang sedang menatap kami, sekalipun aku tidak melihat sekeliling. Pandanganku praktis hanya kepada Bargi.
Bargi. Bargi. Memang selama ini kami punya hubungan apa, sih? Hanya teman, kan? Aku tidak pernah merasakan getaran-getaran atau reaksi kimia saat bertemu atau berbicara dengannya. Aku tidak mencintainya. Kualihkan pandanganku, lalu kulihat Rani melihatku dengan pandangan kecewa, namun tersenyum memaksa.
“Apa Amelia Larasati yang kamu maksud itu aku?”, tanyaku. Hanya anak yang dekat denganku yang bisa mendengarnya. Lalu Galuh memberiku microphone, kuulangi pertanyaanku.
“Ya”, jawab Bargi.
“Kalau begitu aku minta maaf. Sejujurnya aku sangat berharap ada seseorang yang nembak aku hari ini. Tapi, ternyata bukan kamu yang kuharapkan. Aku minta maaf, tapi biar bagaimanapun kamu teman baikku, kamu sudah membuat aku senang walau aku mengecewakanmu. Sorry...”, kataku. Semua orang memandang kami. Beberapa anak kecewa, tapi aku melihat Rani sudah kembali ceria. Aku memberikan microphone pada Galuh, lalu aku berbalik, berjalan pulang.
“Gimana kalau sama aku?”
Hah? Siapa itu? Suaranya seperti suara....... Galuh.
Aku harus bilang apa? Aku tidak bisa berkata-kata. Yang jelas hatiku mencelos, jantungku berdetak lebih cepat, air mataku keluar, senyum tak bisa kutahan. Galuh memelukku, semua anak bersorak.
Hari ini bagai kutukan buatku, tapi hari ini adalah hari terbaik bagiku.
 

Leeya.woncoco Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template