Ouch!

0 komentar
Emang seseorang gag bisa ya, just live  gitu? Hidup mandiri, tanpa mementingkan kelompok tertentu, hanya membela agama, keluarga, nasionalisme, dan keamanan dirinya sendiri? Banyak contoh kecil dari nepotisme, kolusi, membela kelompok walaupun sampai mati (ya, ini rada lebay sih), yang aku tau, kadang aku saksikan atau alami sendiri. Banyak orang hanya membela kelompoknya sendiri-sendiri. Mungkin itu sebabnya, minggu kemarin bapakku bilang, "Indonesia ini gampang pecah. Kalau masih kelompok-kelompok'an gini terus, paling berapa tahun lagi pecah tiap pulaunya." Wow! Kurasa nggak salah kalau aku bilang, dunia ini tempatnya perang idealisme, semua merasa paling benar, semua pingin idealismenya jadi pondasi kehidupan.  However, it's just the world.. how complicated.

Struggling for life nggak mulu mesti angkat senjata, tumpahkan genangan darah, korbankan beberapa anggota tubuh, atau nyaris mati dikejar macan. Mencari posisi dalam kehidupan, mencari teman yang takkan terlupakan, mencari ilmu, sendiri melihat banyak orang berkelompok sambil ketawa ngakak, ngikutin apa yang lingkungan lakukan hanya demi diterima dalam masyarakat (walau kadang itu nggak sesuai hati nurani), mempertahankan prinsip, mengejar mimpi, that's what struggling for life means for me. Hidup terasa susah banget... though I just want to live as simply as possible...

I feel like, lonely in this very crowded world. Dan aku rasa, aku tidak masuk dalam kelompok manapun, bukan anggota geng manapun, somehow I just keep my independency. Just say I'm selfish, yes I am. Just say I'm depressed, yes I am. Just say I'm hars and rude and so unmannered, yes I am. But deep inside, I have a dream... about the world of harmoni...

Sekarang yang aku pikirin adalah... wow, mungkin aku mesti belajar lebih keras buat uas nanti, karna kemungkinan besar aku nggak akan dapet soal uts kemarin. Of course, I'm not part of 'his group'. Dia punya foto-foto soal uts kemarin, and it will just be limited edition. Tadi dia bilang, aku boleh punya soal itu. Tapi aku nggak mbantuin apa-apa. Oke, biasanya aku yang ngetik. Tapi sekarang aku nggak ikut andil, bukan aku yang ngetik. Bukan aku nggak mau, tapi emang aku nggak dikasih datanya. Aku nggak berguna sekarang. Dan aku nggak akan ngeluh kalo nggak dapet soal, it's oke. Walopun dia lupa, siapa yang udah berusaha ngumpulin dan ngetik soal dari semester satu dan menyebarkannya saat kebanyakan cuman apatis dan mau enaknya aja. Walopun dia lupa, siapa yang udah berusaha untuk menyatukan tiga kelas jadi satu lewat soal-soal. Walopun dia lupa, kalo orang ini masih ada, masih hidup, masih kuliah dan satu kelas dengannya, dan masih butuh soal itu. Aku nggak akan ngeluh (sebenernya udah ngeluh sekarang ini kan, hoho), karna aku nggak mau ikut-ikutan sirik. I have to struggle! Lagian, belajar itu nggak ada ruginya. Biarin nilaiku cuman B karna nggak hafal soal. Yang penting aku selalu belajar. That's the most important thing... Hidup adalah tentang memberi manfaat... hopefully I can give much, even it has to be 'someday'...

Going crazy!! HELP!!

2 komentar
huhuhuuuuu...
sumpe, I'm SHOCK!!!
it's about TA alias tugas akhir. Tugas yang wajib dikerjain sebagai syarat jadi S.Ked. Makan empat sks sendiri di semester 6 ini. Bikin pikiran numpuk! numpuk! puk! puk! numpuk! AaaarrrrgHHhh.....

Dan rada begonya lagi, idealisme q mendorong aku buat nyari yang susah. Idealisme? bah! Apaan lagi tuh?? Yang jelas, entah kenapa, aku gag mau sama kayak temen-temen kebanyakan. Kebanyakan dari temen-temen, pilih tema yang relatif mudah, cepet, dan murah. See..? Kurang bego apa coba aku ini?? Huumm, whatever laaah..

Kisah TA ku ini bisa jadi novel rasanya kalo diceritain. Puuaaanjaaaang dan mbulet dan susaaaaaaah dan penuh perjuaaangaaaaaann (lebay, hahaaaa... at least for me it felt like that). Tapi, rada males cerita sekarang ini. Kalo disingkat, kurang lebih kayak gini perjalanannya:

awal semester 5 >> metodologi 3 >> tugas: PROPOSAL TA >> apa ya? >> dapet ide paraahh! >> ke dosen PA >> ideku totally riddiculous, sama sekali gag ilmiah >> "Saya nggak punya penelitian sekarang, tapi saya jadi dosen pembimbingnya PPDS Anak doble degree. Dia dari Libya, mau neliti tentang buah tin terhadap high fat diet. Kalau kalian tertarik?" >> "iya dok, kami pikirin," kataku >> sesungguhnya aku gag mikir sama sekali, tapi somehow, it felt like a chance (atau mungkin karna aku males mikir dan nyari-nyari peluang lain aja) >> "Iya, dok, kami tertarik," I said >> ngajak temen-temen >> kelompok'an 4 orang >> ternyata tu orang Libya error! Cuman orang yang nyasar kelas. Gag bisa ngomong indonesia, gag bisa ngomong english >> gag nyambung >> gag jelas >> gag tau arah >> gag gabung sama orang itu lagi >> no contact >> masih penasaran sama buah tin (spesifiknya polifenol buah tin) >> lanjutkan judul ini! >> ngirim proposal PKM ke dikti >> ujian proposal (buat nilai metodologi 3) >> nganggur + libur kuliah >> semester 6 >> gag dapet pendanaan dikti >> bingung, diterusin apa engga nih? >> diterusin! >> liat dosen pembimbing 2 >> blablabla, Apt, M.Sc, Ph.D (WHAT??!!!! lagi2 orang S3 lulusan luar negeri. Matek! Dosen pembimbing 1 juga dokter S3 lulusan luar negeri) >> SHOCK!!!!! >> to be continued...

T______________T

Baksooo

0 komentar
Bikin bakso sendiri di rumah? Bukan masalah.. check this out..

what you need:
- daging sapi segar tanpa fascia dan tanpa lemak
- tepung kanji
- bawang
- kaldu sapi
- garem

alatnya:
- palu daging
- pisau gede
- talenan
- uleg-uleg
- wadah plastik
- kulkas
- panci
- saringan
- sendok sayur
- kompor

cara bikinnya:
1. daging diiris tipis-tipis, terus digepuk sampe cukup lunak
2. daging dicincang pake pisau sampe cukup lembut (gag bisa dibedain serat melintangnya)




3. uleg halus bawang (tambah banyak tambah enak)



4. uleni daging cincang tadi sama bawang n tepung kanji, sampe rata (tepung kanji kebanyakan jadinya lembek kayak cilok, kalo kedikitan jadinya serat dagingnya kerasa banget)




5. simpen di kulkas sampe cukup dingin (bukan membeku, tujuannya biar mudah dibentuk)



6. panaskan kaldu (ditambahi garem secukupnya), kalo udah mendidih apinya dikecilkan (bukan dimatikan)
7. bentuk daging tadi bulat-bulat, dan langsung masukkan ke kaldu yang mendidih
8. bakso yang melayang di permukaan berarti udah mateng, ditiriskan di saringan



9. cetak terus baksonya sampe dagingnya habis
10. selamat menikmatiii... :)




think of it:
Daging itu kan otot skeletal. Selnya sepanjang seratnya. Kalo dihancurkan sampe gag berbentuk serat-serat panjang lagi, berarti selnya rusak dong. Dengan dipukul-pukul pake palu daging dan pisau, berarti ngerusak proteinnya juga. Kemudian masih dipanasi dengan air mendidih.
Apakah bakso itu masih punya manfaat buat nutrisi tubuh kita? Atau cuma another junk food?

Stupid (part 2)

1 komentar
      Dini, nama cewe itu. Sedang kuliah semester dua di fakultas kedokteran sebuah universitas negeri. Bukan kemauannya memilih sekolah ini. Bukan juga kemauan orang tuanya. Tidak ada yang menyangka dia akan memilih melanjutkan sekolah di fakultas ini. Tidak seorangpun menyangka, tidak juga kedua orangtuanya, tidak juga kakaknya. Dalam silsilah keluarganya, belum ada yang menjadi dokter. Hanya budhenya, istri dari kakak ibunya, yang menjadi bidan. Tapi tetap, semua orang menghargai pilihannya dan mendukungnya penuh. Bahkan orang tuanya yang notabene ‘biasa saja’ dari segi keuangan, sangat senang anaknya melanjutkan sekolah di fakultas yang katanya ‘mentereng’ itu. Tidak ada satupun kalimat pesimis maupun bernada tidak senang ketika Dini diterima di fakultas itu. Hanya tangis bahagia dan ucapan selamat bertubi-tubi yang menghiasi lolosnya seorang perempuan delapan belas tahun ini dari ujian Negara untuk memasuki universitas negeri.
       Kadang, sekolah di fakultas itu menjadi sangat sulit bagi Dini. Kuliah jam tujuh pagi selama tiga jam, dilanjutkan dengan istirahat satu jam, dan dilanjutkan lagi dengan diskusi sistematis. Kadang, masih dilanjutkan lagi dengan belajar bersama teman-teman sekelasnya. Sekitar jam empat sore, baru Dini bisa bernafas lega. Namun bukan untuk istirahat, karena dia masih harus mengerjakan tugas modul untuk diskusi esok harinya, nanti malam, sendirian, di kamarnya.
       Kadang, dia bisa jadi sangat tertekan dengan kisah hidupnya. Walaupun tidak ada yang tampaknya sangat jelek dalam hidupnya, setidaknya begitulah yang terlihat dari luar. Dia bisa menangis sendirian di kamarnya dibalik selimut, berpura-pura tidur, barangkali orangtuanya tiba-tiba masuk kamarnya. Kadang dia menulis diary untuk meluapkan tekanan itu, atau menelepon teman SMA-nya, hanya untuk mendengar temannya bertanya ‘kenapa’ dan berdiam diri selama satu jam. Kali ini, dia memilih datang ke indekost teman SMA-nya.
       Sesampainya di indekost teman lamanya, dia menunggu temannya itu membukakan pintu. “Hei, tumben kamu kesini?” sapa temannya sambil membukakan pintu gerbang. Dini hanya terdiang dan menerawang.
       ‘Kamu yakin mau curhat sama temenmu itu? Dia mana tau perjuanganmu? Kayaknya sia-sia deh kalo kamu ngomong sama dia,’ sebuah sisi dirinya menyentakkan impuls ke pikirannya.
       “Ayo, masuk,” ajak temannya. Dini memarkir sepeda motornya di teras indekost temannya, lalu mengikuti temannya menuju kamar.
       “Kenapa kamu?” tanya temannya. Dini hanya menerawang – lagi. “Kok nggak jelas sih? Mau minum?” tanya temannya lagi. Lagi-lagi, respon yang sama dari Dini. Temannya menyodorkan segelas air mineral yang barusan dipompa dari galon di sebelahnya. Dini hanya menggeleng pelan.
       “Tak nyalain lagu ya, be’e bikin kamu jadi sadar,” kata temannya, lalu beranjak ke depan laptop di meja rendah yang sudah nyala dari tadi. Lagu Relax, Take it Easy dari Mika berdentum-dentum dari speaker. Kemudian diliriknya temannya yang sepertinya sedang bermasalah itu, menunduk seperti orang tanpa harapan dan kebahagiaan. Lalu dia membuka-buka situs jejaring sosial dari laptopnya.
       “Kamu pernah bingung gag?” Lirih, namun kalimat itu keluar dari bibir Dini.
       ‘Nah lo, ngomong apaan sih?! Semua orang pasti pernah bingung laaah... jangan sok bego gitu dong! Orang lain jadi gag respek. Walopun curhat, ya yang keren dikit gitu lho, kayak: aku bingung nih milih antara dua cowo, mereka baik semua sih. Masa tanya: kamu pernah bingung gag? Képlé!’
       Masih sambil mengetik di laptopnya, temannya tadi berkata, “bingung dalam konteks apa dulu?”
       “Ya bingung. Pokoknya bingung aja gitu,” kata Dini lagi, walau agak jaim juga rasanya dia bilang kayak gitu. *jaim=jaga image
       “Pernah sih, sering malah,” jawab temannya singkat.
       Sunyi.
       Masih sunyi.
       Masih saja tidak ada yang memulai percakapan.
       Mengatasi kesunyian itu, temannya berkata lagi, “kemarin itu, aku di sms Siska, katanya si Mita jadian sama Andi ya..?”
       ‘Mita. Andi. Apa urusanmu sama mereka berdua? Mereka cuman dua orang yang sering ganti-ganti pacar. Ilang satu, nyari yang lain, untuk ilang lagi. Gag penting banget sih mikirin mereka. Kamu aja masih belum selesai sama dirimu sendiri!’
       Dini hanya menganggukkan kepala pelan. “Kamu sekelas kan sama Mita?” tanya temannya lagi.
       Lagi-lagi Dini hanya menganggukkan kepala pelan. Lalu sunyi lagi.
       ‘Coba deh berpikir positif. Ungkapkan uneg-uneg kamu, biar lega. Temanmu ini siap membantu kamu,’ sisi dirinya kembali menggaungkan suara di otaknya.
       Dini menyandarkan kepalanya ke dinding di samping kirinya. Matanya kembali menerawang. “Ka...” ucapnya lirih. “Kamu masih mau jadi temenku, kan?” tanyanya pelan. Sangat pelan. Hampir-hampir tidak terdengar. Tapi temannya, Rika, mendengarnya.
       “Dari dulu kamu itu temenku,” kata Rika. Lalu sunyi lagi. “Kamu ada masalah kah?” tanya Rika, memecah kesunyian.
       Dini mengingat-ingat kembali hidupnya. Tekanan. Banyak tekanan. “Kuliah di FK itu susah banget ya,” ucapnya, dengan mata masih menerawang.
       Rika melihatnya sebentar, dan berkata, “Kan kamu sendiri yang milih.”
       “Kayaknya pilihanku salah deh,” sesal Dini.
       “Lha terus..?”
       “Kalo aku pindah aja gimana ya? Ke yang lebih gampang gitu..?”
       “Kamu kok tiba-tiba jadi kayak gini si? Ya kan emang gitu kalo mau jadi dokter. Banyak lho yang pingin ada di tempatmu sekarang.”
       Dini menghela nafas. Sisi lain dirinya lagi-lagi berbisik, ‘temen kamu bener, sayang. Ini bukan resiko, tapi pilihan. Allah pasti kasih kamu kemampuan yang lebih sehingga kamu bisa berada di tempat kamu sekarang. Tenang aja, semuanya tinggal dijalani kok.”
       “Makanya, kalo nentuin pilihan, mikir dulu dong! Dasar kamunya aja yang bego. Masa milih FK tanpa pertimbangan sama sekali? Salah tuh...” sisi kontra bicara lagi. Dini menghela nafas lagi.
       “Aku numpang tidur disini bentar ya,” tanya Dini.
       “Iya gag apa-apa, tidur’o wes.”

TEGAS!!

0 komentar
too much thinking about things
too much worrying about doing things
too much counting about gainings
these all 'too much' will just make a 'never enough'



Pak Mario Teguh said:

"bertindak dan salah, itu lebih baik daripada tidak bertindak"

"tidak salah orang yang melakukan kesalahan. Yang salah adalah orang yang takut bertindak salah."

"Pilihannya: memutuskan atau tidak."

"TEGASLAH!"

"kalau anda bingung, putuskan!
kalau anda bimbang, putuskan!
kalau anda ragu, putuskan!
kalau tidak jelas mana yang lebih baik, putuskan!
kalau ada kemungkinan salah, putuskan!"

"hampir semua orang penakut, kecuali yang tidak waras"

"dalam marketing, menjadi yang pertama lebih baik daripada menjadi lebih baik. Kita semua orang yang frustasi, karena banyak orang yang pangkatnya lebih tinggi dari kita, ternyata tidak lebih baik dari kita. Maka jadilah yang pertama, lakukan, lalu perbaiki."

"yang mengharuskan peningkatan kualitas diri: mencintai
bukankah anda masih bisa bahagia tanpa dicintai orang lain..?"

"mulai sekarang, kata pengorbanan dihapus! karena semua itu adalah kebahagiaan."
 

Leeya.woncoco Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template